Pentingnya Muhasabah

Headline

With a great subtitle

Write one or two paragraphs describing your product, services or a specific feature. To be successful your content needs to be useful to your readers.


Muhasabah (menghisab) diri, dalam pandangan Haris bin Asad al-Muhasibi, adalah pangkal takwa. Ia berkata, “Pangkal ketaatan adalah sikap wara (waspada terhadap dosa). Pangkal wara adalah takwa. Pangkal takwa adalah muhâsabah diri. Pangkal muhâsabah diri adalah sikap khawf dan raja (harap dan cemas kepada Allah SWT). Pangkal khawf dan raja adalah memahami janji dan ancaman-Nya.” (Abu Nuaim al-Asbahani, Hilyah al-Awliya, 4/282).

Menurut Imam Hasan al-Bashri muhâsabah akan meringankan hisab pada Hari Akhir. Sebab, dengan muhâsabah itulah hati kita terjaga dari kelalaian, mulut terhindar dari mengucapkan keburukan dan perbuatan kita akan terpelihara dari segala maksiat dan kemunkaran. Menurut Ibnu Qayyim dalam kitab Mukhtasyar Minhâj al-Qâshidîn, “Muhasabah diri itu sejatinya dilakukan sebelum dan setelah melakukan perbuatan.”

Muhasabah diri tentu amat penting dilakukan oleh setiap Muslim, setiap waktu, sebelum ia dihisab oleh Allah SWT pada Hari Akhir nanti. Pasalnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada Hari Kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara: Tentang umurnya, untuk apa dia habiskan. Tentang masa mudanya, untuk apa digunakan. Tentang hartanya, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan. Juga tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengan ilmunya itu.”


Karena itulah seorang Muslim sejatinya tidak bertindak sebelum menghisab dirinya dan menimbang-nimbang apakah tindakannya terkategori halal atau haram. Ia pun sejatinya memiliki waktu khusus di malam atau siang hari untuk melakukan muhâsabah diri atas segala tindakannya. Jika telah sesuai dengan syariah, alhamdulillah. Jika ada yang menyimpang dari syariah, hendaknya ia bertobat kepada Allah SWT (Lihat: Abu Abdurrahman as-Silmi, Thabaqat as-Sufiyyah, 1/33)