WAKAF SUMUR UTSMAN BIN AFFAN RA

WAKAF SUMUR UTSMAN BIN AFFAN RA

 Utsman bin Affan RA adalah sahabat Rasulullah saw yang dikenal kelembutan dan kedermawanannya, tidak hanya itu, ternyata pada saat Madinah dilanda kekeringan luar biasa, dan masyarakat harus rela membayar mahal air dari sumur seorang Yahudi. Atas dasar kepedulian dan keprihatinan pada umatnya, Rasulullah pun memberikan tantangan pada para sahabatnya.

“Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah Ta’ala.” (HR. Muslim)

Tak menunggu lama, Utsman dengan kecerdikan dan harta yang dimilikinya segera membeli sumur tersebut dan mewakafkannya untuk masyarakat sekitar. Hasil wakaf sumur ini sampai saat ini masih terus ada bahkan makin beranak-pinak menghasilkan manfaat yang lebih besar untuk masyarakat dari hari ke hari.

 Sumur yang telah di wakafkan Ustman terus berkembang. Oleh pemerintah Ustmaniyah, wakaf tersebut dijaga dan dikembangkan. Perawatan wakaf Ustman ini dilanjutkan Kerajaan Saudi. Alhasil, dikebun tersebut tumbuh sekitar 1550 pohon kurma. Kerajaan Arab melalui kementerian Pertanian mengelola hasil kebun wakaf Utsman. Uang yang didapat dari panen kurma dibagi dua; setengahnta dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin lalu separuhnya lagi disimpan di sebuah bank dengan rekening atas nama Utsman bin Affan.

Rekening atas nama Utsman bin Affan dipegang oleh Kementerian Wakaf. Dengan begitu ‘kekayaan’ Utsman bin Affan yang tersimpan di bank terus bertambah  sampai pada akhirnya digunakan untuk membeli sebidang tanah di kawasan Markaziyah (area eksklusif) dekat Masjid Nabawi. Diatas tanah itulah hotel Utsman bin Affam dibangun dari uang rekeningnya, tepat disamping Majsid yang juga atas nama Utsman bin Affan.

Inilah wakaf dahsyat Utsman bin Affan yang memanfaatkan kondisi sulit dan kekeringan yang melanda Umat untuk kepentingan pribadinya kelak di akhirat. Dapatkah kita menirunya?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

 

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang shalih”. (HR. Muslim no. 1631)

Yang dimaksud sedekah jariyah adalah amalan yang terus bersambung manfaatnya. Seperti wakaf aktiva tetap (contoh: tanah), kitab, dan mushaf Al-Qur’an. Inilah alasannya kenapa Ibnu Hajar Al-Asqalani memasukkan hadits ini dalam bahasan wakaf dalam Bulughul Maram. Karena para ulama menafsirkan sedekah jariyah dengan wakaf.

Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Hadits ini jadi dalil akan sahnya wakaf dan pahalanya yang besar di sisi Allah. Di mana wakaf tersebut tetap manfaatnya dan langgeng pahalanya. Contoh, wakaf aktiva tanah seperti tanah, kitab, dan mushaf yang terus bisa dimanfaatkan. Selama benda-benda tadi ada, lalu dimanfaatkan, maka akan terus mengalir pahalanya pada seorang hamba.” (Minhah Al-‘Allam, 7: 11)

Demikian yang dapat disampaikan, Semoga kehadiran WOI.OR.ID  menambah pengetahuan tentang  “Wakaf Sumur Utsman Bin Affan RA” Semoga bermanfaat dan menjadi amal jaryah. Aamiin.