Ustadz Aceng, usianya 44 Tahun, tinggal di Kampung Salamgede, Desa Kersamenak Kecamatan Tarogong Kidul  Kabupaten Garut, Jawa Barat - Indonesia, awalnya beliau seorang pengrajin serok penggorengan. Pada suatu malam, saat usia 40 Tahun, beliau bermimpi bertemu dengan ayahandanya. Dalam mimpinya tersebut ayahanda berpesan untuk membangun dan memimpin pesantren tahfidz Al Qur’an, sebagaimana saudaranya yang lain.

Rumah Tahfiz Al Zamani

(Suasana menghafal Al-Qur'an di Pondok Tahfiz Al Zamani - Garut)

Beberapa hari Ustadz Aceng merenungkan mimpinya tersebut dan mempertimbangkan antara meneruskan usahanya yang sedang berkembang atau memimpin pesantren tahfidz. Sebenarnya dengan hasil usahanya yang cukup besar, bisa saja Ustadz Aceng membangun pesantren tahfidz dan menggaji beberapa ustadz yang Hafidz untuk memimpin pesantren tersebut. Namun, persoalannya adalah dalam mimpinya, Ustadz Aceng yang diminta untuk memimpinnya secara  langsung, bukan yang lain.  Akhirnya setelah melakukan perenungan yang mendalam dan berharap keridhoan dari Allah SWT, Ustadz Aceng mengambil keputusan untuk menjalankan pesan bapaknya tersebut, sebagai bentuk baktinya kepada orang tua, walau dengan konsekuensi harus menjual empat buah mobilnya dan beberapa lahan pertanian (sawah dan ladang) yang diperoleh dari hasil kerja kerasnya menjalankan usaha pengrajin serok penggorengan selama ini. Hasil penjualannya tersebut digunakan untuk membeli lahan dan membangun pesantren di belakang rumahnya. Pesantren tersebut diberi nama Rumah Tahfidz Al Zamani, yang kapasitasnya dapat menampung sebanyak 150 santri.

Rumah Tahfiz Al Zamani

(Pembangunan Rumah Tahfiz Al Zamani tahap 1 sudah selesai)

Setelah Rumah Tahfidz Al Zamani berdiri, Ustadz Aceng fokus mengelola dan mengajar di rumah tahfidz tersebut. Sambutan dari masyarakat sangatlah besar, santrinya pun hari demi hari semakin bertambah. Dengan kesibukannya sebagai pengelola, pengajar dan membina Rumah Tahfidz Al Zamani, Ustadz Aceng tidak bisa lagi fokus menjalankan usahanya. Ustadz Aceng akhirnya memutuskan untuk hijrah dari seorang pengusaha sukses menjadi seorang ustadz pengelola sebuah rumah tahfidz.

Yang lebih menakjubkan lagi adalah, Ustadz Aceng kemudian menemukan Metode Unik Menghafal Al Quran. Dengan metode inilah Ustadz Aceng mencetak para santrinya menjadi hafal Al Quran dalam waktu yang cepat. Saat ini, dengan metode ini, sudah ada 2 orang santri yang telah hafal 30 juz dalam waktu dua tahun, bukan hanya hafal ayat per ayat secara berurutan, tetapi mereka juga hafal jika diminta membacakan ayat berdasarkan nomor juz dan nomor ayat. Dengan metode ini, ada diantara santrinya yang telah memperoleh piala penghargaan dari beberapa instansi, yang antara lain adalah dari Yayasan Telkom.

Setelah berjalan selama 3 tahun, santrinya semakin banyak, sebagian dari mereka pun bukan lagi berasal dari penduduk yang dekat, banyak juga di antara mereka yang tinggal di tempat yang cukup jauh, sehingga ketika mereka menempuh ilmu di Rumah Tahfidz Al Zamani, mereka harus pulang sampai larut malam. Pasalnya, waktu mereka untuk belajar Al Quran dengan Ustadz Aceng dimulai setelah Ashar dan baru selesai sekitar jam 9 malam bahkan sering kali lebih malam lagi. Waktu pagi sampai siangnya mereka gunakan untuk aktifitas sekolah umum di daerahnya masing masing.

Kebanyakan dari para santrinya adalah putri. Masalah inilah yang menjadi beban fikiran Ustadz Aceng saat ini. Rasa iba dan khawatir akan keamanan para satriwatinya yang harus pulang kemalaman di pedesaan yang, jika sudah lewat waktu magrib, suasananya menjadi sangat gelap, sepi dan jarang sekali angkot seperti di perkotaan. Ustadz Aceng berfikir, “Bagaimana ya caranya agar para santri, terutama yang putri, tidak lagi pulang kemalaman’’. Akhirnya muncul ide dan harapan untuk bisa membangun asrama tempat tinggal para santri sehingga mereka tidak lagi harus pulang kemalaman.

Jika pada awalnya Ustadz Aceng berkorban menjual empat mobil dan meninggalkan usahanya yang telah sukses untuk Rumah Tahfidz Al Quran, saat ini beliau sudah tidak memiliki lagi harta yang bisa dikorbankan. Ada satu, yaitu rumah, namun itu digunakan untuk tempat tinggal beliau dan keluarganya. Dana simpanan hasil usaha pun sudah habis. Jangankan simpanan, untuk operasional rumah tahfidz nya saja beliau banyak terbantu dari infaq dan sedekah dari orang tua santri dan masyarakat. Hal ini demikian, karena dalam mengelola rumah tahfidz nya, Ustadz Aceng menerapkan konsep berbasis infaq, sedekah dan wakaf, bukan berbasis transaksional bisnis.

Jika Beliau Telah Mengorbankan Beberapa Bidang Lahan Garapan Pertanian dan Empat Mobil Hasil Usahanya Demi Meraih Pahala Jaariyah Yang Mengalir Sepanjang Masa, Bagaimana dengan Kita ?

Marilah berwakaf untuk membangun Asrama Rumah Tahfidz Al Zamani !

 

Partnet Lapang : Dadun Sutardi

Nilai Dana Yang Dibutuhkan Untuk Pembangunan Asrama Rumah Tahfidz Al Zamani;

  1. Pembangunan Asrama Rumah Tahfidz                              ; Rp.   923.700.000,-
  2. Pembayaran Hutang Pembangunan Rumah Tahfidz         ; Rp.   244.000.000,- +

                                                                                                        Rp.1.167.700.000,-

 

Rabu malam (11/9), sekitar pukul 22.10 WIB, tim BWA bertolak dari Jakarta menuju Rumah Tahfidz Al-Zamani di Garut. Menggunakan minibus, Bhakti (Manager Program) dan tim media BWA memilih jalur Cipularang-Nagreg untuk sampai ke lokasi yang beralamat di Desa Kersamenak, Kec. Tarogong Kidul, Kab. Garut. Pukul 03.00 WIB (12/9) tim baru tiba di Rumah Tahfidz Al-Zamani. Karena khawatir mengganggu waktu istirahat Ustadz Aceng dan para santri, akhirnya tim BWA istirahat di mobil sambil menunggu waktu shubuh tiba.

Tepat waktu shubuh tiba, tim BWA dibangunkan oleh Ustadz Aceng (Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Zamani). Setelah shalat shubuh dan istirahat, Bhakti dan tim media melanjutkan kegiatan untuk melihat perkembangan pembangunan dan kegiatan Rumah Tahfidz Al-Zamani.

Dengan suhu di bawah 15° C, posisi Rumah Tahfidz Al-Zamani yang diapit beberapa gunung, salah satunya Gunung Cikuray, kondisi tersebut membuat nyaman siapa pun yang singgah di sini. Apalagi bangunan Rumah Tahfidz Al-Zamani sekarang sudah 3 lantai. Sehingga view di lantai 3 Pesantren ini sangat menyejukkan mata.

(Asrama Tahfidz Al-Zamani)

(Asrama Tahfidz Al-Zamani)

Progress pembangunan Rumah Tahfidz Al-Zamani tahap awal, sudah hampir selesai. Ruang murajaah, ziyadah, mushola, asrama putri, hingga ruang karantina untuk santri yang akan mengikuti perlombaan sudah rampung dibangun. Tinggal asrama putra yang masih 'nyempil' dekat dengan dapur. Rencananya, di tahap berikutnya, asrama putra akan segera dibangun.

Para santri pun sangat bahagia dengan adanya fasilitas dan bangunan yang baru untuk menunjang mereka dalam menghafal Al-Qur'an. Selli(15), salah satu santriyah yang paling lama di Al-Zamani menyampaikan "saya sudah 4 tahun di Al-Zamani, dulu mah ini sawah semua, ngajinya masih di depan. Sekarang Alhamdulillah sudah lebih nyaman menghafal Al-Qur'an.". Santriyah yang sudah hafal 14 juz dan sedang proses murajaah 6 juz ini sangat bahagia dengan kondisi Al-Zamani sekarang.

Selain Selli, salah satu santri ikhwan, Ahmad Maula(14) pun menyampaikan, bahwa dirinya berharap Rumah Tahfidz Al-Zamani semakin berkah, dan santrinya semakin banyak. Maula sudah hafal 5 juz dan baru saja mengikuti perlombaan Tahfidz Al-Qur'an di Yayasan Telkom di Bandung.

Salah satu kelebihan metode hafalan di Rumah Tahfidz Al-Zamani, yakni para santrinya sampai hafal Surat beserta nomer ayatnya. MaasyaAlloh. Dengan metode ini, santri Al-Zamani banyak menjuarai lomba Tahfidz di berbagai event.

Hanya saja, menurut Ustadz Aceng, bangunan yang sudah berdiri tersebut masih menyisakan hutang. Hal ini yang masih belum menggenapkan kebahagiaan mereka. Ustadz Aceng berharap para muhsinin dab wakif sekalian dapat membantunya menyelesaikan hutang-hutang tersebut. "Saya sering didatangi sama yang punya toko bangunan, tapi saya yakin, Alloh SWT sudah berjanji, janji siapa yang pasti ditepati kecuali janji Alloh SWT?!".

Keyakinan Ustadz Aceng dan santrinya tentu menyentuh nurani kita. Karena di Al-Zamani nantinya akan lahir lebih banyak lagi para hafidz Qur'an, generasi Qur'ani yang mencintai Al-Qur'an. Oleh karenanya, giliran kita menyelesaikan hutang-hutang pembangunan Rumah Tahfidz Al-Zamani.