Warga Bojongsari Merindukan Air Bersih

 

Tak hanya di musim kemarau, di musim penghujan pun warga Desa Bojongsari masih kesulitan air bersih. Warga menantikan Program Wakaf Air Bersih Desa Bojongsari segera diwujudkan.

Setiap hari anak-anak yang bersekolah di SD Munjul di Desa Bojongsari, Kecamatan Tanjung Gunung, Kabupaten Tasik Malaya, Jawab Barat diwajibkan untuk membawa sebotol air ke sekolah. Namun air tersebut bukan untuk diminum, melainkan mengisi toren penampung air yang akan digunakan untuk keperluan MCK di sekolah. Peraturan ini diterapkan karena sekolah tidak memiliki cadangan air bersih sendiri. Sumbangan air dari anak-anak murid sangat diandalkan, walaupun pada kenyataannya tetap tidak mencukupi kebutuhan yang ada. Dengan ketersediaan air yang sangat terbatas, dapat dibayangkan seperti apa kondisi  fasilitas MCK di sekolah tersebut.

Problem kesulitan air bersih tidak hanya terjadi di lingkungan SD Munjul, tetapi merupakan masalah yang sudah lama melanda sebagian besar wilayah Desa Bojongsari. Munjul sendiri merupakan nama salah satu dusun yang terdapat di desa tersebut.  Desa Bojongsari memiliki enam dusun, yaitu  Dusun Bojongsari, Kalangsari, Munjul, Cikuya, Muarasari, dan Guhasari. Empat di antaranya—Dusun Bojongsari, Kalangsari, Cikuya, dan Munjul—kerap mengalami kekeringan di musim kemarau. Sementara di musim hujan penduduknya mengandalkan air bersih dari rembesan-rembesan mata air yang ada di tiap-tiap dusun.

Jumlah penduduk Desa Bojongsari pada tahun 2019 tercatat sebanyak 4.972 jiwa, terdiri dari  1.417 Kepala Keluarga (KK). Khusus di Dusun Munjul, penduduknya terdiri dari 203 KK. Dusun Cikuya 223 KK, Dusun Kalangsari 316 KK, dan Dusung Bojongsari sebanyak 304 KK. Umumnya kepala keluarga ini merantau ke kota dan sebagian kepala keluarga lain melakukan pekerjaan tani. Para perantau pulang ke kampung berkumpul dengan keluarga saat Hari Raya Idul Fitri. Jadi sehari-hari diluar bulan Syawal desa lebih banyak dihuni oleh kaum perempuan dan anak-anak.  Merekalah yang bergelut dengan kesulitan air bersih.

Air Tanah Langka

Lokasi Desa Bojongsar berada pada ketinggian 300-350 meter di atas permukaan laut (mdpl), arah sebelah tenggara kota Tasikmalaya. Dilihat dari peta hidrogeologi, Desa Bojongsari termasuk daerah air tanah langka, sehingga tidak potensial dilakukan pengeboran. Tanggal 20 Juni 2019 Tim Badan Wakal Al Quran (BWA) melakukan survei ke daerah ini dan melihat distribusi air bersih yang ada adalah sistim pengambilan air dari sumber air secara individu dengan menarik selang atau pipa PVC ke masing-masing rumah dengan biaya pribadi. Panjang pipa bervariasi dari 100 meter hingga 500 meter dari sumber air ke rumah mereka. Ada juga warga yang melakukan patungan pengadaan pipa atau selang untuk kebutuhan tiga rumah.

Semua sumber air berada di tanah milik pribadi. Pada musim kemarau warga tidak leluasa mengambil air di sumber yang ada. Seperti di Dusun Kalangsari, sumber air di dusun ini berada pada cekungan aliran parit yang terbentuk oleh alam dan keluar dari rembesan bebatuan dan pohon-pohon besar. Kondisi Dusun Cikuya hampir sama dengan Kalangsari. Terdapat sumber air di kawasan yang bernama Gunung Tilu. Tetapi di sana hanya terpasang 8 selang untuk dialirkan ke 25 rumah saja. Siapapun tidak bisa menggugat hal ini sekalipun Kepala Desa. Di Dusun Cikuya juga terdapat satu sumur bor dengan kedalaman 55 meter, yang dibuat atas bantuan dari Rumah Wakaf. Namun kapasitasnya hanya bisa melayani 30 KK saja. Debit airnya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dusun.

Di antara keempat dusun yang kesulitan air bersih, Dusun Munjul yang kondisinya paling parah karena posisinya berada paling tinggi dari dusun-dusun lain. Di daerah ini tidak ada sumber air. Bahkan di saat musim penghujan pun mereka tidak bisa menikmati air bersih. Untuk keperluan sholat di Mushola Munjul, seperti berwudhu, warga terpaksa mengandalkan air buangan kolam dan pengairan.

Tim BWA yang dipimpin Ustadz Hazairin, dengan didampingi Ustadz Adit sebagai mitra lapangan, menelusuri sumber air yang diharapkan dapat membantu mengatasi kesulitan air bersih di Desa Bojongsari, terutama di Dusun Munjul dan Dusun Kalangsari yang berada 1 kilometer di bawah Dusun Munjul. Sumber air yang dicari berada di Desa Jatijaya. Untuk mencapai lokasinya TIM BWA berjalan kaki dari Dusun Munjul selama 40 menit, menempuh jarak 1 kilometer lebih melalui pematang sawah. Di daerah perbukitan Tim BWA menemukan hamparan sawah dengan padi yang menghijau membentang seluas 17 bata (setara dengan luar 221 meter persegi). Sawah tersebut terairi dengan baik. Pada dinding sawah merembes air, padahal saat itu musim kemarau. Kondisi ini sangat kontras dengan masalah kesulitan air bersih yang dialami warga Desa Bojongsari.

Sumber air yang dimaksud berjarak sekitar 1,5 kilometer di atas Dusun Munjul. Posisinya berbeda ketinggian sekitar 30 meter diatas Dusun Munjul. Sumber air tersebut berupa mata air yang keluar dari tanah  bebatuan. Debit airnya diperkirakan 0,5  liter per detik milik pak Abdullah, warga desa Jatijaya.  Warga Desa Bojongsari belum pernah memanfaatkan sumber air ini karena lokasinya yang cukup jauh dan letaknya di luar wilayah desa.

Sumber air di Desa Jatijaya inilah yang hendak dijadikan program wakaf air bersih “Water Action for People” (WAFP) sebagai solusi untuk mengatasi kesulitan air bersih di Dusun Munjul dan Kalangsari. Tim BWA akan melakukan upaya agar air di Desa Jati jaya ini bisa mengalir sampai ke rumah-rumah warga di Dusun Munjul dan Dusun Kalangsari. Untuk itu TIM BWA telah melakukan langkah-langkah kongkrit tahap awal demi merealisasikan rencana ini, seperti mengadakan pertemuan dengan tokoh masyarakat dan warga Desa Munjul yang sangat gembira dengan hadirnya program WAFP ini. Mereka sudah lama menantikan solusi atas kesulitan air bersih.

Tim BWA juga mendatangi dan berdiskusi dengan tokoh dan masyarakat Desa Jatijaya, tempat sumber air berada. Sebelumnya terdengar kabar ada penolakan dari warga Jatijaya terhadap proyek WAFP ini, karena khawatir bila sumber air dibendung sistem pengairan sawah mereka akan terganggu. Setelah bertemu langsung dengan Tim BWA, warga Jatijaya paham dengan niat baik proyek ini, dan malah berbalik mendukungnya. Tim BWA secara sengaja menemui Pak Abdullah, pemilik lahan lokasi sumber air. Pada prinsipnya Pak Abdullah tidak keberatan dengan proyek WAFP, dan berkenan menjual lahan miliknya tersebut seluas 221 m2 kepada BWA seharga Rp65 juta, agar kegiatan pembangunan proyek WAFP berjalan dengan leluasa.

Rencana Pekerjaan

Tim BWA sudah menyusun lingkup Rencana Pekerjaan Wakaf Air Bersih Desa Bojongsari, Kecamatan Gunung Tanjung, Tasikmalaya Tahap 1, yang diuraikan sebagai berikut:

  1. Test geologi tanah dengan Peralatan Geolistrik.
  2. Test laboratorium air sampel  dari sumber air.
  3. Pembebasan Lahan tempat sumber air seluas 221 m² .
  4. Membuat bangunan bak di sumber mata air kapasitas 2,5 m³.
  5. Membuat bak tampung kapasitas 15 m³  di dusun Munjul.
  6. Membuat bak tampung kapasitas 15 m³ di dusun Kalangsari.
  7. Memasang jaringan pipa HDPE dia 2 inchi sejauh ± 1500 meter dari sumber air ke Dusun Munjul di Lokasi SD Negeri Munjul.
  8. Memasang jaringan pipa HDPE dia 1,5 inchi sejauh ± 1500 meter dari Dusun Munjul ke Dusun Kalangsari.
  9. Pemasangan instalasi pipa PVC ke rumah-rumah yg dekat dengan jalan.

Melihat antusias masyarakat Desa Bojongsari untuk mendapatkan air bersih, khususnya warga Dusun Munjul dan Kalangsari, BWA bertekad untuk merealisasikan proyek ini selekas mungkin. Semakin banyak yang berpartisipasi untuk mendukung proyek ini, akan semakin cepat proyek ini terealisir. Semoga Allah memberi pertolongan, serta kemudahan dan kelancaran untuk mewujudkan pembangunan wakaf air bersih di Desa Bojongsari.

 

Nilai Wakaf yang Diperlukan:

Rp 1.200.000.000,-

Partner Lapangan:

Ustadz Addit

 

Murid-murid SDN Munjul, yang berlokasi di Desa Boongsari, Kecamatan Tanjung Gunung, Kabupaten Tasikmalaya, tampak berbaris di selasar sekolah. Masing-masing mereka membawa sebotol air untuk dimasukkan ke dalam toren milik sekolah. Hal ini dilakukan setiap hari, dan sudah menjadi kewajiban setiap murid. Air dari toren ini sangat diperlukan untuk kegiatan bersuci dan MCK di sekolah.

Aturan ini diterapkan karena SDN Munjul tidak memiliki sumber air bersih sendiri. Satu-satunya yang menjadi andalan hanyalah air hujan. Di saat kemarau, air bersih menjadi langka. Terbatasnya air membuat kondisi WC sangat kumuh dan bau. Kondisi ini sangat tidak sehat sangat mengganggu kenyamanan proses belajar mengajar.

(Kondisi MCK Warga Bojongsari)

(Kondisi MCK Warga Bojongsari)

Imron, salah seorang guru SDN Munjul menceritakan, “Kami sangat membutuhkan air bersih. Sekolah hanya mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Sejak kemarau panjang kami sangat susah untuk mendapatkan air bersih bahkan apabila  kami ingin buang air besar atau ingin biar kecil harus mencari air jauh kira-kira 2 kilometer sampai ke air yang dibutuhkan,” tuturnya.

Masalah kekeringan yang diceritakan Imron, dialami oleh umumnya masyarakat Desa Bojongsari, terutama warga Dusun Munjul dan Dusun Kalangsari yang lokasinya berada di wilayah paling atas Desa Bojongsari. Tidak adanya sumber air bersih di wilayahnya membuat warga desa sangat kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari, seperti untuk makan, minum, dan MCK. Ibadah di masjid juga terkendala karena ketiadaan air. Ditambah lagi sekarang kemarau berlangsung panjang, sudah hampir 7 bulan tidak turun hujan. Tanah-tanah sudah merekah dan pecah.

(Kolam Air Warga yang Mengering)

(Kolam Air Warga yang Mengering)

Dalam situasi yang sulit ini, untung ada relawan yang membantu men-dropping air bersih untuk warga Bojongsari. Namun jumlah air yang tersedia terbatas, tidak bisa menyelesaikan krisis air yang membelenggu warga. Bojongsari membutuhkan bantuan yang dapat membebaskan mereka dari kekeringan secara merata ke seluruh desa dan bisa dimanfaatkan dalam jangka panjang.

Badan Wakaf Al ‘Quran (WAP) telah melakukan survei dan merancang program pembangunan sarana air bersih atau Water Action For People (WAFP) untuk warga Bojongsari. Kegiatan pokoknya berupa pipanisasi, yaitu mengambil air dari sumbernya yang berada di luar desa Bojongsari (Desa jatijaya), kemudian mengalirkannya ke wilayah Desa Bojongsari hingga sampai ke rumah-rumah warga.

Untuk mewujudkan itu hal ini diperlukan effort yang diperlukan cukup besar karena sumber air berada di luar Desa Bojongsari. Namun hal sulit akan terasa mudah jika dilakukan bersama-sama. Karena itu BWA mengajak para wakif untuk bersama-sama mendukung program pembangunan sarana air bersih di Bojongsari ini. Semoga niat baik dan bantuan yang diberikan membawa manfaat yang besar bagi warga Bojongsari, dan mendatangkan keberkahan pula bagi semua pihak yang berpartisipasi. Akhirnya, semoga Allah Subhanahuwata’aala memudahkan dan melancarkan upaya kita bersama untuk membebaskan warga Bojongsari dari kekeringan.