Wujudkan Sarana Air Bersih Untuk Konsumsi Warga Desa Pantai Bahagia Bekasi

 

(Lokasi alat Desalinasi Air Payau dari salah satu Universitas di Jakarta, Muara Gembong)

Rabu 26 September 2018 Tim Badan Wakaf Al Qur’an melakukan survei  ke Kecamatan Muaragembong, Bekasi. Lokasi yang kami tuju di kecamatan ini adalah Desa Pantai Bahagia. Desa ini berada di ujung Bekasi lokasinya berbatasan langsung dengan laut Jawa dan juga dibelah oleh Sungai Citarum. Lokasi yang terletak di kawasan pesisir itu membuat Muara Gembong jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi, dan seolah tak terjamah. Itu terlihat dari sulitnya akses transportasi dan minimnya infrastruktur.

Dengan menaiki perahu tim BWA menyusuri sungai Citarum menuju desa Pantai Bahagia. Selama 25 menit akhirnya kami di lokasi, dengan disambut oleh Pak Dadang (35 th) warga Kampung Gobah. Beliau adalah tokoh masyarakat setempat. Melalui beliau kami mendapat informasi bahwa masyarakat di sana sama sekali tidak memiliki sumber air tawar. Kebanyakan warga mendapatkan air dari sumur bor mulai kedalaman 80 m hingga 130 m namun tak satupun yang mengeluarkan air tawar, air masih payau sehingga tidak dapat digunakan untuk keperluan konsumsi. Hanya dipakai untuk mandi, beribadah dan mencuci. Mereka harus membeli ke penjual air. Untuk air tawar satu drum mereka membayar kisaran 40 ribu rupiah sedangkan air minum seharga 22 ribu rupiah untuk satu galon Aqua, atau 8 ribu rupiah per gallon untuk air minum isi ulang. Karena tidak memiliki sumber air tawar mereka harus menunggupenjual air dari desa sebelah yang melintasi perkampungan mereka. Di musim kemarau penjual air yang melintas seringkali terlambat karena sumber air milik mereka volumenya juga berkurang.

Dari kampung Gobah kami melanjutkan perjalanan ke kampung Beting. Kami mendapati bantuan dari salah satu Universitas di Jakarta di lokasi ini yaitu filter dan sterilisasi air sungai. Namun alat tersebut saat ini tidak lagi beroperasi. Menurut penuturan Bu Sumiati (45 th) warga kampung Beting “Alat ini cuma beroperasi selama satu minggu pak, setelah itu tidak lagi berfungsi. Masyarakat juga tidak tahu cara merawatnya”. Perjalanan kami lanjutkan menuju kampung Belukbuk, di kampung ini kami menuju MI dan MTS Nurul Ikhlas dan melihat kondisi sekolah bangunannya sudah usang ditambah meja belajarpun pun mereka tidak punya. Tim mendapat info dari Pak Dadang bahwa angka putus sekolah di daerah ini tergolong tinggi.

Melihat kondisi masyarakat yang demikian BWA merencanakan untuk membuat Wakaf Sarana Air Bersih di Desa pantai bahagia, Kecamatan Muaragembong Bekasi. Ada 2.127 KK / 7.726 Jiwa yang mendiami Desa Pantai Bahagia, dengan Jumlah kampung sebanyak 6.

Rencana Proyek

Rencana proyek pada wakaf sarana air bersih ini adalah sebagai berikut

  1. Pengeboran air tanah di Kampung Gobah untuk mendapatkan air payau (Air Baku)
  2. Pembangunan rumah alat desalinasi
  3. Pengadaan alat desalinasi air payau menggunakan Teknologi Reverse Osmosis (RO). Air hasil desalinasi adalah air tawar dan memiliki standar untuk air minum
  4. Bekerjasama dengan penjual air untuk membantu pendistribusian ke Masyarakat

Dengan Wakaf Sarana Air Bersih ini diharapkan mampu mengatasi kesulitan air bersih di Desa Pantai Bahagia, sekaligus sarana wakaf ini dapat diberdayakan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat desa. Kami mengajak para wakif untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dengan menginfakan sebagian hartanya untuk wakaf sarana air bersih ini. Semoga menjadi amal sholeh yang menyelamatkan kita di Akhirat. Aamiin.

 

Biaya yang di Butuhkan:

Rp 1.791.200.000,-

Partner Lapangan:

Pak Dadang

 

#WakafQuran #WakafSaranaAirBersih

Di sudut timur Ibukota, daerah Bekasi tepatnya di Muara Gembong, Desa Pantai Bahagia. Masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kualitas air disana buruk dan dengan kondisi kualitas mata air itu, warga hanya bisa memanfaatkannya untuk kebutuhan mencuci dan mandi, sementara untuk kebutuhan minum atau memasak warga harus membeli air ke penjual-penjual, yang tentunya memberatkan dan menambah pengeluaran sehari-hari mereka.

Pada kamis, 14 Februari 2019 Tim BWA bersama Tim Geophysic dari Bandung melaksanakan Tes Geolistrik di Desa Pantai Bahagia Muara Gembong, Bekasi. Tujuan tes ini untuk mendeteksi apakah ada lapisan akuifer yang dapat dimanfaatkan untuk pengeboran air. Didampingi Komunitas Muaragembongkita dan Pak Dadang sebagai Tokoh Masyarakat setempat Geolistrik dilakukan dengan mengambil sampel dua titik pengukuran di Kampung Gobah.

Pengukuran geolistrik dilakukan di dekat rumah Pak Dadang karena beliau mau mewakafkan sebagian tanah di lokasi beliau untuk nanti dipakai untuk pengeboran dan penempatan alat desalinasi. Setelah dilakukan tes selama kurang lebih 3 jam didapatkan titik yang terdapat Akuifer. Walaupun akuifernya yang ditemukan adalah Akuifer Air Payau. Riwayat pengeboran di Desa Pantai Bahagia memang belum ada satupun warga yang mendapatkan air tawar dari hasil pengeboran. Sehingga pertimbangan untuk desalinasi dari air payau hasil pengeboran adalah alternatif terbaik.

Hasil Geolistrik

(Hasil Geolistrik)

Akuifer berada di kedalaman 40-85 m, sehingga bisa dilakukan pengeboran di sampai kedalaman 85 m. Dengan hasil geolistrik ini maka di lokasi Pak Dadang, bisa dilakukan pengeboran untuk mendapatkan air baku untuk dilakukan proses desalinasi.

Dengan kondisi yang dialami warga Muara Gembong, Badan Wakaf Al Qur’an melalui program Water Action for People (WafP), bergerak bersama membantu agar saudara kita di Muara Gembong, tepatnya di Desa Pantai Bahagia, kembali berbahagia dengan ketercukupan air bersih untuk bisa mereka manfaatkan sehari-hari.

Mari para wakif, kami mengajak anda untuk membantu saudara-saudara kita di Muara Gembong untuk mendapatkan air tawar dengan mudah. Semoga Allah memudahkan urusan kita di dunia dan di akhirat. Aamiin.

 

#WaterActionforPeople #MuaraGembong