Meski Sering Terguling,  Ustadz Yamin Tetap Membina Mualaf Sintang

 

Ustadz Muhammad Yamin adalah seorang dai di pedalaman Sintang, Kalimantan Barat. Kegigihannya dalam membina kaum Muslimin sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, khususnya dalam membina para mualaf.

Dalam aktivitas dakwahnya, Ustadz Yamin dibantu beberapa ustadz lain yang tergabung dalam timnya. Sejak lulus dari Pondok Pesantren Taruna Qur’an Yogyakarta (2004), Beliau dan tim mengabdikan diri guna membina para mualaf di beberapa kampung pedalaman Sintang, keluar masuk pedalaman sudah menjadi rutinitas mereka.

Untuk menuju kampung-kampung binaannya di pedalaman Sintang, Ustadz Yamin dan tim membutuhkan waktu tempuh sekitar 7-8 jam bila cuaca cerah. Namun bila sedang turun hujan maka diperlukan perjuangan yang lebih besar lagi bahkan sampai menginap dalam perjalanannya. Maklumlah curah hujan di Kalimantan Barat tergolong cukup tinggi.

Hujan sudah berhenti pun masalah masih menyambangi, kondisi jalan yang berlumpur memaksa Ustazd Yamin dan timnya lebih berhati-hati untuk melewatinya. Motor yang dikendarai sering kali selip karena licin bahkan sering pula tidak bisa jalan karena dipenuhi tanah di sela-sela rodanya.

Jatuh tersungkur, terperosok dalam kubangan lumpur serta terguling karena licinnya jalan sering mereka alami. Bahkan tubuhnya luka atau terkilir serta bajunya penuh dengan lumpur itu biasa dialami oleh seluruh anggota tim.

Hal itu terjadi lantaran kendaraan yang digunakan bukan kendaraan standar off road, ini sangat menyulitkan bagi siapa pun yang mengendarainya dengan medan seperti itu. Tentu motor trail-lah yang tepat untuk untuk menempuh rintangan perjalanan dakwah tersebut.

Belum lagi jadwal pengajian dan pembinaan yang sewaktu-waktu berubah karena kesibukan para mualaf tersebut bekerja di kebun dan di hutan, karena kebanyakan dari mereka adalah buruh di perkebunan.

Namun, hal ini tidak pernah menyurutkan niatnya membantu membina dan mengajarkan baca tulis Al-Qur’an kepada saudara mualaf di pedalaman Sintang. Apalagi kondisi akidah para mualaf di sini masih labil sehingga sangat rentan pemurtadan, dan sudah ada kejadian sebagian dari mualaf tersebut kembali murtad.

Untuk mengurangi beban Ustadz Yamin dan tim, Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) melalui Program Wakaf Khusus (WK) mengajak Anda berwakaf dua unit motor trail. Sehingga dakwah di pedalaman Sintang semakin lancar dan kita semua mendapatkan pahala dari setiap deru debu dan cipratan lumpur motor trail wakaf tersebut. Aamiin.[]

Nilai Wakaf yang Diperlukan:

Rp 155.859.000,-  (dua unit motor trail, akomodasi, dokumentasi dan publikasi)

Partner Lapang:

Ustadz Muhammad Yamin

Malam itu kami sengaja tidak pulang ke rumah masing-masing, namun kami tidur di kantor (Badan Wakaf Al-Qur'an) di Jalan Tebet Timur Dalam I No 1 Tebet, Jakarta Selatan. Hal ini kami lakukan agar mudah berkordinasi, karena jadwal penerbangan kami ke Sintang pada jam 05.00 dan satu jam sebelum penerbangan kami harus siap di bandara. Apalagi jarak dari BWA ke Bandara Soekarno Hatta sekitar 45 menit, belum lagi butuh waktu untuk menunggu taksi. Artinya kami harus menghitung waktu secara cermat agar kami tidak ketinggalan penerbangan.

Jarum jam ketika itu menunjukkan tepat di angka 02.30 selasa 19 maret 2019 dini hari. Ketika sebagian orang masih terlelap dalam buaian indahnya mimpi, tim kami sudah bangun dan bersiap untuk berangkat ke bandara Soekarno Hatta Cengkareng.

Ya, pagi itu kami harus terbang menuju Sintang, Kalimantan Barat. Penerbangan ini cukup panjang, sekitar 7 jam penerbangan kami jalani. Penerbangan dari Jakarta menuju Sintang itu hanya ada satu kali penerbangan setiap hari dan itupun harus transit terlebih dahulu di bandara Supadio Internasional Pontianak sekitar 3 jam lamanya.

Dari bandara Sintang kami menuju tempat titik temu dengan ust. Muhammad Yamin yang ditempuh menggunakan taksi selama 45 menit. Hari ini kami tidak bisa langsung ke kampung-kampung binaan ust. Yamin karena sudah terlalu sore, disamping jalanan yang akan kami lalui tidak ada yang mudah oleh karenanya kami manfaatkan untuk kordinasi dengan tim dakwah pimpinan ust. Muhammad Yamin.

Kondisi Jalan yang Harus Dilalui Ust. Yamin untuk Berdakwah

(Kondisi Jalan yang Harus Dilalui Ust. Yamin untuk Berdakwah)

Pada kesempatan ini kami ke Sintang ini dalam rangka melaksanakan amanah para Wakif Badan Wakaf Al-Qur'an untuk menyerahkan satu unit motor Dakwah merk Kawasaki KLX 150G hasil dari penggalangan dana wakaf untuk proyek Wakaf Khusus Motor Dakwah Sintang kepada tim dakwah pedalaman Sintang yang dipimpin oleh ust. Muhamad Yamin.

Beliau dan tim adalah dai energik yang luar biasa yang telah mewakafkan diri dan ilmunya untuk membina para Mualaf Suku Dayak di kampung-kampung pedalaman yang ada di Sintang.

"Ya Allah saksikanlah hari ini melalui Badan Wakaf Al-Qur'an, kami tim dakwah Pedalaman Sintang mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada-Mu, karena dengan rahmat-Mu telah engkau Tuntun saudara-saudaraku dari Badan Wakaf Al-Qur'an mengunjungi kami dari Jakarta jauh-jauh ke pedalaman Sintang sini. Bahkan karena kasih-Mu ya Allah, melalui BWA kami dibawakan satu unit motor Wakaf dari saudara-saudaraku semuslim ini. Ya Allah saya bersaksi bahwa motor wakaf ini akan kami jaga dan kami gunakan untuk berdakwah di pedalaman ini. Ya Allah, berikanlah Rahmat-Mu kepada saudara-saudara kami yang telah mewakafkan hartanya untuk kemudahan dakwah kami ya Allah. Ya Allah abadikan lah wakaf ini sebagai penyambung silaturahmi diantara saudara kami yang jauh di kota-kota dengan kami yang ada di pedalaman ya Allah"

Khusyuk dipanjatkan doa dan rasa syukur oleh ust. Muhammad Yamin kepada Allah SWT yang telah mengirim penolong dakwah ini kepadanya. Nampak rasa haru dan bahagia bercampur jadi satu dalam dada memaksa air mata bercucuran dari kedua mata ust. Muhammad Yamin.

(Wakaf Motor Mulai Digunakan untuk Bedakwah)

(Wakaf Motor Mulai Digunakan untuk Bedakwah)

Inilah sepenggal kisah perjalanan kami ke Sintang, semoga Wakaf yang Anda titipkan kepada Badan Wakaf Al-Qur'an sebagai sarana memudahkan dakwah di tempat terpencil dan sebagai sarana menjalin ikatan sesama saudara Muslim di seluruh pelosok negeri.

Nantikan perjalanan kami berikutnya.

“..Ibarat menanam padi maka jangan lupakan prosesnya bila ingin hasil yang baik, mulai mempersiapkan lahan, memilih benih yang baik, menanam benih dengan benar, membersihkan gulma dari tanaman, memupuknya dan menjaga serangan hama lain serta dari binatang yang bisa merusak tanaman tersebut sampai tanaman tersebut memasuki tahap akhir yaitu memanennya dan jangan pernah berpikir menanam padi menginginkan panen jagung atau kacang, itu sesuatu yang mustahil terjadi. Oleh sebab itu ketika antum menginginkan kebaikan dari Allah SWT, jangan lupa proses untuk mendapatkan kebaikan dari Allah SWT itu dijalani dengan teratur dan ikhlas”, demikian tutur Ustadz Muhammad Yamin, Ketua Tim Dakwah Pedalaman Sintang, Kalimantan Barat.

Berdakwah di pedalaman Sintang penuh dengan tantangan dan rintangan, bukan hanya infrastruktur yang buruk, tetapi diperlukan niat yang kuat serta pengorbanan yang besar. Apalagi di setiap kampung membutuhkan pembinaan  rutin dan berkesinambungan. Serta butuh pula pengorbanan harta, waktu dan tenaga yang sangat besar guna menyelamatkan saudara Muslim dan Mualaf di pedalaman yang sangat rawan akidah.

(Motor Dakwah Siap Digunakan untuk Membina Umat Sintang)

(Motor Dakwah Siap Digunakan untuk Membina Muslim Sintang)

“Kita harus berani berkorban yang lebih besar lagi untuk membina mereka agar para Mualaf di pedamalan tidak kembali murtad”, sambung Ustadz Muhammad Yamin kepada tim Badan Wakaf Al-Qur’an.

Apa lagi ketika Tim Badan Wakaf Al-Qur’an mengunjungi salah satu daerah binaan Tim Dakwah Pedalaman Sintang yang dipimpin oleh Ustadz Muhammad Yamin, tepatnya ke kampung Pangkaluang, Benua Baru. Dari Sintang kami menggunakan motor trail untuk menembus jalanan yang pantas disebut arena off-road, karena memang hanya motor dan mobil khusus yang bisa melewatinya. Jarak antara Sintang ke kampung Pangkaluang sejauh 60 KM harus kita tempuh dengan waktu 5 jam lebih bila tidak hujan, namun kalau hujan jalanan berubah menjadi bubur yang sangat sulit dilewati. Sementara tim ini belum mempunyai kendaraan yang memadai, terpaksa tim Dakwah Pedalaman Sintang menyewa motor trail, sedangkan untuk mengunjungi kampung-kampung binaannya dibutuhkan waktu 2 hari, dan biaya sewa motor trail sebesar Rp. 200.000,- per hari, itu belum biaya beli bensin dan perbekalan.

(Terjalnya Medan yang Harus Dilalui)

(Terjalnya Medan yang Harus Dilalui)

Begitu berat dan besarnya pengorbanan Tim Dakwah Pedalaman Sintang. Hal ini membutuhkan kerjasama tim, ketangguhan anggotanya dan sarana transportasi yang memadai serta dukungan seluruh kaum Muslimin khususnya dalam pengadaan sarana transportasi berupa motor trail.

Sejak bulan November 2018 Badan Wakaf Al-Qur’an telah melakukan penggalangan dana untuk pembelian 2 unit motor trail dalam proyek Wakaf Khusus Motor Dakwah Sintang – Kalimantan Barat. Alhamdulillah pada bulan Maret 2019 telah diserah terimakan 1 unit motor Trail merek Kawasaki KLX 150 G kepada Ustadz Muhammad Yamin untuk digunakan mendukung transportasi Tim Dakwah Pedalaman Sintang.

 

“Jazakallahu Khayran wa ahsanal jaza, kepada para Wakif dan Badan Wakaf Al-Qur’an yang telah mengorbankan harta dan tenaganya guna membantu pengadaan Motor Wakaf dalam proyek Wakaf Khusus Motor Dakwah Pedalaman Sintang – Kalbar.”, pungkas Ustadz Muhammad Yamin.

Masih ada kesempatan bagi Anda untuk berpartisipasi dalam membantu meringankan beban Tim Dakwah Pedalaman Sintang melalui Badan Wakaf Al-Qur’an. Ayo mudahkan para Da’i di pedalaman Sintang untuk memiliki transportasi yang memadai guna membina akidah saudara kita di pedalaman, jangan biarkan mereka menjadi murtad.

 

#WakafKhususDakwah #WKMotorSintang

 

“Jauh di mata dekat di hati.” Itu perumpamaan yang menggambarkan antara kami tim Dakwah Sintang dengan saudara mualaf di pedalaman Sintang, bila dalam sepekan tim tidak ada yang datang.

Kedatangan kami setiap pekannya selalu di tunggu oleh mualaf di pedalaman Sintang. Mulai dari yang ingin belajar baca Al-Qur’an sampai yang hanya ingin melihat kami ada untuk mereka. Itulah saudara, bagaikan anggota tubuh. Bila kaki kesandung, mulut teriak, mata berair karena menangis menahan sakit.

(Ustadz Yamin)

“Dulu sebelum belajar Islam, mereka selalu curiga dengan orang Islam yang datang ke mari. Tetapi sekarang mereka selalu menunggu kedatangan orang Islam dari kota, agar mereka bisa belajar sekaligus berbagi pengalaman.” Cerita ustad Muhammad Yamin.

Hidup dilingkungan masyarakat yang mayoritas Nasrani dan animisme menjadi tantangan tersendiri. Belum lagi kecurigaan mereka kepada kaum muslim sangat tinggi. Islam yang minorItas membawa dampak buruk bagi umatnya. Tekanan, diskriminasi dan persekusi terhadap orang Islam yang ingin melaksanakan ibadah.

(Medan Terjal yang Harus Dilalui)

(Medan Terjal yang Harus Dilalui)

Sampai saat ini di beberapa desa, saudara-saudara kami tidak bisa mendirikan tempat ibadah seperti mushola dan masjid. Akhirnya mereka menggunakan gudang salah seorang warga yang sudah tidak di pakai untuk aktivitas ibadah. Di gudang itulah kami belajar ngaji, melaksanakan sholat fardu dan sholat jum’at.

(Aktivitas Dakwah Ustadz Yamin)

(Aktivitas Dakwah Ustadz Yamin)

Dengan motor dakwah yang kami terima dari wakif melalui BWA pada Maret lalu, sangat membantu aktivitas Tim Dakwah Pedalaman Sintang. Dengan motor wakaf tersebut telah mendekatkan yang jauh dengan menghidupkan silaturahmi.

Tim Dakwah Pedalaman Sintang masih butuh satu unit motor trail lagi. Mari kita bantu agar dakwah di pedalaman Sintang semakin bertambah banyak.