Laporan:

6 KM Mencari Air Bersih

 

Iring-iringan sepeda ontel (gayuh) dan motor dengan membawa jerigen mengangkut air di sepanjang jalan desa Kepohkidul menuju Kedungadem adalah pemendangan yang biasa kita setiap hari. Itulah kesibukan warga desa Kepoh Kidul setiap musim kemarau tiba, dan tahun ini sejak bulan Juni baru 2 kali turun hujan, sehingga kolam-kolam penampungan air wargapun kering.

Desa Kepohkidul, yang berjarak kira-kira 6 Km lebih, sebelah barat kota kecamatan Kedungadem, yang mayoritas penduduknya petani ini setiap musim kemarau hampir bisa dipastikan mengalami kekurangan air bersih, maklum di desa ini tidak terdapat sumber mata air atau aliran sungai, maka untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka harus mengangkut air dengan motor, atau sepeda ontel, bahkan sebagian masyarakat terpaksa harus memikul dengan melintasi pematang sawah.

Ketika tim BWA (Badan Wakaf Al qur’an) datang ke desa Kepohkidul (27/9) membantu pengadaan air bersih, masyarakat menyambut dengan gembira mereka membawa ember atau jerigen masing-masing “ Matur suwun terimakasih banyak atas bantuanya kepada warga kami, mudah-mudahan bantuan ini barokah, dan diganti oleh Allah SWT dengan balasan yang berlipat ganda”, demikian sambutan Drs. Cunta, Kepala Desa Kepoh Kidul menyampaikan ucapan terima kasih mewakili warga penerima bantuan air bersih.

Selama 3 pekan Tim BWA mendistribusikan bantuan air bersih, setiap harinya mampu mengirimkan 3-5 kali. Sekali angkut bisa membawa 100 jerigen air. Satu jerigen berisi 30 liter air. Untuk pemerataan pembagian setiap KK masing-masing mendapat bagian 2-3 jerigen. Walaupun bantuan ini tidak sepenuhnya mampu mencukupi kebutuhan air warga masyarakat, namun setidaknya mampu meringankan beban mereka. “Harapan kami pemerintah segera mencarikan jalan keluar permasahan kekurangan air ini, dengan membuatkan sumur artesis atau membangunkan waduk penampung air,” demikian harapan Purwanto, Kepala Dusun Sumber Wungu yang merupakan dusun terparah, kepada Tim BWA .

Desa Kepohkidul adalah salah satu desa yang mengalami kekeringan setiap musim kemarau dan masih banyak desa-desa lainnya yang kondisinya sama. Pemberian bantuan sifatnya hanya meringankan saja, bukan solusi. Tentu yang bisa mengatasi permasalahan ini adalah dengan kebijakan pemerintah. Sehingga kedepan tidak ada lagi cerita desa-desa yang mengalami kekeringan karena musim kemarau, sehingga pergantian musim hujan dan kemarau bisa menjadi berkah bagi warga desa bukan menjadi bencana.

Laporan dari Romadhon, Koordinator TIM BWA Bojonegoro-Jawa Timur