10 Maret 2026

Mari Bangun Kembali Majelis Taklim Warga Terdampak Gempa Cianjur

Tag:
WKDMajelis TaklimCianjur

Mari Bangun Kembali Majelis Taklim Warga Terdampak Gempa Cianjur

 

Di Kampung Bonceret, Desa Sirna Galih, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, berdiri sebuah bangunan sederhana yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kegiatan keagamaan warga. Di sanalah anak-anak belajar mengaji, ibu-ibu mengikuti majelis taklim, dan bapak-bapak berkumpul dalam suasana kebersamaan. Bukan bangunan besar, tapi ia punya peran besar bagi kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. Namun gempa bumi Cianjur pada 21 November 2022 mengubah segalanya.


(Bangunan yang Masih Berdiri, Tapi Tak Lagi Aman)


Dari luar, bangunan majelis taklim itu tampak masih berdiri. Dindingnya masih utuh, atapnya masih meneduh. Sekilas, tak semua orang menyadari bahwa bangunan ini telah menyimpan bahaya. Retakan-retakan halus di dinding dan struktur menjadi tanda awal bahwa kekuatannya telah berkurang.


Bangunan ini bukan runtuh karena gempa besar berikutnya, melainkan perlahan melemah oleh satu kejadian yang meninggalkan dampak panjang. Masyarakat mulai menyadari: tempat ini tidak lagi aman untuk digunakan.


(Retakan di Dalam Ruang Ngaji)


Di bagian dalam, kerusakan terlihat lebih jelas. Retakan memanjang di dinding, plafon anyaman bambu yang jebol, dan struktur yang tak lagi kokoh membuat siapa pun waswas. Tempat yang dulu menjadi ruang belajar Al-Qur’an kini justru menjadi sumber kekhawatiran.


Bagi warga, keputusan menghentikan aktivitas di majelis taklim bukanlah perkara mudah. Namun keselamatan anak-anak dan jamaah jauh lebih penting daripada mempertahankan bangunan yang rapuh.


(Keputusan Berat: Majelis Itu Dirobohkan)


Setelah melalui musyawarah, survei, dan pengajuan bantuan, masyarakat akhirnya mengambil langkah paling berat: merobohkan bangunan majelis taklim tersebut. Perobohan dilakukan secara gotong royong oleh warga sendiri—dengan hati berat, tapi dengan niat menjaga keselamatan bersama.


Dinding-dinding yang dahulu menjadi saksi lantunan ayat Al-Qur’an satu per satu runtuh. Bukan karena ditinggalkan, tetapi karena masyarakat ingin membangunnya kembali dengan cara yang lebih aman dan bermartabat.


Aktivitas Tak Berhenti, Meski Tempat Tiada

Sejak majelis itu diratakan dengan tanah, kegiatan mengaji tidak berhenti. Untuk sementara, anak-anak dan jamaah berkumpul di rumah Ustadz Acep, pembimbing yang selama ini membersamai mereka. Ruang tamu rumah menjadi kelas mengaji, teras menjadi tempat pengajian ibu-ibu.

Namun waktu terus berjalan. Kegiatan yang bersifat darurat ini tak bisa berlangsung selamanya. Masyarakat mulai bertanya dalam diam: sampai kapan kami harus menumpang?


Warga Kampung Bonceret tidak meminta bangunan megah. Mereka hanya berharap sebuah majelis yang kokoh, aman, dan layak, agar anak-anak bisa kembali belajar Al-Qur’an tanpa rasa takut, dan masyarakat bisa kembali berkegiatan seperti sebelum gempa.

Majelis taklim ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah ruang tumbuhnya nilai, tempat pertemuan generasi, dan simpul ketahanan sosial masyarakat desa.


Majelis taklim ini menunggu untuk dibangun kembali—bukan hanya dengan batu dan semen, tetapi dengan kepedulian banyak pihak. Dengan bersama-sama, kita bisa menghadirkan kembali ruang belajar Al-Qur’an yang aman dan kokoh bagi masyarakat Kampung Bonceret, Cianjur.


 

Nilai Wakaf yang Dibutuhkan:

Rp.850.000.000

 

Partner Lapang:

Ustadz Acep

 


#BWA #InovasiWakaf #WKD #MajelisTaklim #Gempa #Cianjur