Gotong Royong Bangun Pondok Tahfidz Al Badar di Pulau Salawati, Papua Barat
Pentingnya Pendidikan di Salawati, Papua Barat
Bapak Dwi Irianta, perintis Madrasah ‘Aliyah Salawati ini berasal dari Pacitan dan besar di Blora, Jawa Tengah. Pria lulusan Sekolah Pendidikan Guru tahun 1981 ini sejak 1982 diangkat sebagai guru CPNS bersamaan dengan pemberangkatan kedua orang tuanya yang juga seorang guru dalam Program Transmigrasi Pegawai ke Sorong, Papua. Namun Pak Dwi tidak turut berangkat bersama kedua orang tuanya ke Papua.

(Pak Dwi Irianta)
Menjaga Estafet Dakwah
Tahun 1993, beliau ke Papua tepatnya pada 19 Agustus 1993 karena memenuhi panggilan ibunya. Kemudian pada tahun 1994, beliau mendirikan SMP Islam Gupi di daerah Salawati Daratan. Beliau berbagi waktu dengan kesibukannya mengajar sebagai guru SD, pagi di SD, sore di SMP Islam. Beliau tergerak untuk merintis SMP Islam karena kebutuhan dakwah Islam disana. Seiring berjalannya waktu, tantangan dakwah semakin berat. Tepatnya pada tahun 1998, karena aktifitas dakwah beliau yang dianggap melawan arus karena menyosialisasikan jilbab, beliau mendapat ujian di mutasi ke daerah yang lebih terpencil, ke daerah Kalobo, Salawati Tengah.
Namun beliau tak berkecil hati. Dakwah beliau tak lantas menjadi surut. Di tempat yang baru beliau merintis TPA-TPA. Beliau perihatin dengan kondisi generasi muslim di tempat di mana beliau bertugas. Beliau memfasilitasi anak-anak muslim untuk mendapatkan pendidikan Islam yang lebih baik dengan mengirim mereka diantaranya ke sekolah-sekolah dan panti-panti Islam Muhammadiyah di Kota Sorong dan ke Hidayatullah di Balikpapan, dan alhamdulillah hari ini, anak-anak tersebut telah berhasil meraih kesuksesannya dan bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat hingga sekarang.

(Murid dan Santri Pondok)
Kemudian beliau terpikir bahwa jika anak-anak putra daerah terbaik harus selalu dikirim ke luar daerah, maka tidak akan ada generasi muslim yang baik yang akan melanjutkan estafet dakwah di Salawati ini, sehingga beliau tergerak untuk membangun lembaga pendidikan Madrasah ‘Aliyah di Salawati sejak tahun 2007. Dengan berbagai tantangan yang beliau hadapi alhamdulillah lembaga pendidikan yang beliau rintis bisa tetap berjalan meski tertatih-tatih hingga pada tahun 2014 beliau merintis juga Madrasah Tsanawiyahnya. Berbagai ancaman dan intimidasi beliau alami selama mengawal pendidikan dan dakwah Islam yang beliau perjuangkan di sana.
Murid-murid Madrasah tersebut kebanyakan berasal dari pulau-pulau kecil di wilayah Distrik Salawati. Sehingga pada tahun 2015 beliau mulai mendapatkan masukan-masukan dari para orang tua murid agar dibangun asrama agar dapat menampung para murid yang berasal dari pulau-pulau agar mereka tidak kesulitan lagi untuk berangkat ke sekolah. Asrama-asrama tersebut kemudian oleh dinamakan Asrama Al Hidayah.
“Murid kami ini rata- rata berasal dari keluarga yang kurang mampu,” ujar beliau. Karena itu beliau berpikir panjang untuk bisa membangun asrama bagi mereka karena ketidakmampuan keluarga mereka untuk turut mendukung pembangunan asrama. Akhirnya, beliau mengikhlaskan rumahnya untuk digunakan menjadi asrama putri. Lalu beliau juga membeli gubuk kecil yang dipergunakan sebagai asrama putra. Agar lembaga pendidikan yang beliau bangun dapat terus berjalan dan berkembang, beliau berkolaborasi dan menghimpun dukungan dari berbagai lembaga, salah satunya dengan lembaga Tahfidz Al Badar yang berdomisili di Jakarta. Dengan kolaborasi tersebut kemudian beliau mengadopsi nama Al Badar menjadi nama bagi Asrama di Salawati menjadi Asrama Tahfidz Al Badar di Kampung Waibo, Distrik Salawati Tengah, Kab. Sorong, Papua Barat, dengan harapan memiliki citra yang lebih baik dibanding dengan citra sebelumnya yang lebih dikesankan sebagai Panti dan tentunya dengan konsep pembelajaran yang lebih sistematis.

(Rumah Pribadi Pak Dwi yang dimanfaatkan untuk Asrama Putri)
Setiap tahun, Asrama Tahfidz Al Badar ini baru mampu menampung 15 orang pelajar asli Papua di bangunan asrama yang masih jauh dari layak. Kemampuan ekonomi mereka terbatas. Mereka rata-rata hanya mampu memberikan sumbangan pendidikan dan biaya hidup di asrama kisaran 100 - 200 ribu per bulan, dan itupun tidak mesti setiap bulan mampu mereka tunaikan. Karena itu, Pak Dwi berinisiatif dan berkorban dengan memanfaatkan usaha-usaha yang beliau miliki pribadi seperti bertani padi di sawah dan menanam sayur di ladang untuk dapat membantu mencukupi kebutuhan hidup para pelajar tersebut. Istri beliau pun juga turut membantu mencari tambahan pendapatan dengan membuat krupuk, es dan nasi kuning yang dijajakan di sekolah-sekolah di sekitar tempat tinggal.

(Kondisi bangunan asrama Putra)
“Istri saya pun setiap hari bikin krupuk, kemudian ada es, dan nasi kuning. Ditaruh di sekolah-sekolah, hasilnya juga untuk beli tambahan lauk pauk untuk anak-anak kami,” ungkapnya.
Di antara anak didik beliau saat ini ada yang melanjutkan pendidikan di kota-kota besar di Pulau Jawa. Salah satunya ada yang di Surabaya, dimana ia selain melanjutkan hafalan Al-Qur’an di salah satu ma’had Tahfidz disana juga kuliah dan bahkan sudah menjadi Imam di salah satu Masjid di Surabaya. Selain itu juga ada yang ma’had-ma’had Tahfidz yang ada di Sukoharjo, Boyolali, dan Bogor dan juga di LIPIA. Di antara mereka juga direncanakan kembali ke Papua untuk membantu beliau mengembangkan pendidikan Islam dan ma’had Tahfidz di sana.

(Para Santri Putra sedang rehat di sela-sela aktifitas belajarnya)
Kini Pak Dwi perlu dukungan kita semua untuk dapat menyediakan asrama yang layak bagi para muridnya. Bangunan gedung yang diperlukan meliputi 1 unit asrama putra, 1 unit asrama putri, aula, toilet, dapur, tempat makan, rumah guru, dan kolam untuk budidaya ikan yang diharapkan mampu menampung 100 orang santri.

(Rencana Pembangunan)
BWA mengajak kaum muslimin menyukseskan project ini. InsyaAllah, generasai muda yang belajar, menghafal dan mengajar Al-Qur’an serta beribadah di Pondok Tahfidz ini akan mengalirkan pahala bagi Anda.
Nilai Wakaf yang Dibutuhkan:
Rp.1.250.000.000 (Pembangunan Ponpes Tahap Pertama)
Partner Lapang:
Bapak Dwi Irianta
#BWA #InovasiWakaf #WKD #PonpesSalawari #PapuaBarat