Bicara soal pemberdayaan masyarakat pesisir, BWA memiliki pengalaman yang cukup baik. Mengawali program Wakaf Produktif Pemberdayaan, pada tahun 2018, BWA telah berhasil merealisasikan proyek 10 perahu ketinting untuk Masyarakat Desa Sagu, Adonara, NTT. Selain itu, pendampingan intensif dan pengembangan kapasitas bagi nelayan setempat juga telah sedang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kualitas kehidupan nelayan penerima manfaat dari project tersebut.

wakaf produktif

(Keluarga Nelayan di Kutawaru sedang memilah hasil tangkapan mereka)

Berbekal pengalaman tersebut, BWA hendak mengembangkan kebermanfaatan dari potensi wakaf perahu ketinting tapi tidak di Indonesia Timur. Kali ini, tim kami melirik Cilacap yang terkenal dengan slogan masyarakatnya “ora ngapak ora kepenak”.

Kabupaten Cilacap merupakan daerah terluas di Jawa Tengah, dengan batas wilayah sebelah selatan Samudra Indonesia, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Kuningan Propinsi Jawa Barat, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kebumen dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar Propinsi Jawa Barat.

Karena wilayahnya yang berbatasan dengan Samudera Indonesia, Cilacap menjadi salah satu wilayah yang memiliki jumlah masyarakat berprofesi nelayan dengan jumlah yang cukup banyak. Sekitar 25.000 jiwa tercatat di Badan Pusat Statistik(2015) berprofesi nelayan yang tersebar di berbagai kecamatannya. Potensi SDM yang sangat besar untuk mengelola potensi maritim Cilacap.

(Perahu Ketinting di Kutawaru didesain untuk medan perairan tenang - Ketinting Segara Anakan)

Kutawaru yang terletak di Kecamatan Cilacap Tengah menjadi salah satu titik awal pengembangan proyek perahu ketinting dan proyek pemberdayaan masyarakat pesisir yang diinisiasi Badan Wakaf Al-Qur’an bersama partner lapangannya. Sasarannya adalah para nelayan setempat.

Menurut informasi Ustadz Hasan Kristo, partner lapangan BWA, Kutawaru memiliki potensi untuk mulai dikembangkannya proyek perahu ketinting tersebut. Tujuannya untuk membantu meningkatkan kondisi ekonomi nelayan muslim setempat. Selain juga sebagai media dakwah agar masyarakat nelayan, khususnya bapak-bapak nelayan, mau mulai mengkaji Islam, agar kualitas kehidupan mereka semakin baik dan diberkahi Alloh SWT.

Melihat potensi dan sumber yang ada di Kutawaru, BWA menyusun proyek Wakaf Produktif Pemberdayaan masyarakat pesisir untuk diimplementasikan guna mengembangkan kualitas pribadi, keluarga, dan ekonomi masyarakat Kutawaru.

 

Partner Lapangan :

Ust. Hasan Kristo

 

Donasi yang Dibutuhkan :

Rp. 720.000.000,-

(Tujuh Ratus Dua Puluh Juta Rupiah)

“Kami bersyukur bisa membuktikan realisasi amanah yang besar dari wakif, khususnya dari Jasindo, kedua kalinya setelah di Flores”

Badan Wakaf Al Quran menyalurkan wakaf dua perahu ketinting dan 10 alat tangkap ikan dari PT Asuransi Jasa Indonesia untuk nelayan di Cilacap, Jawa Tengah, setelah sebelumnya memberikan empat perahu bagi nelayan Nusa Tenggara Timur.
 

"Kami bersyukur bisa membuktikan realisasi amanah yang besar dari wakif, khususnya dari Jasindo, kedua kalinya setelah di Flores," kata Direktur Operasional dan Keuangan Badan Wakaf Al quran (BWA) M Ichsan Salam di Desa Kutawaru, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis.

Dia mengatakan wakaf merupakan sedekah jariyah yang secara syariah pahalanya tidak akan putus selama materi tersebut tetap digunakan. Berwakaf pada hakikatnya adalah menyerahkan atau menyedekahkan kepemilikan harta manusia menjadi milik Allah atas nama umat.

"Ini sedekah amalan sunah terhadap harta-harta yang habis dipakai. Beras kalau dipakai habis maka itu sedekah biasa. Tapi perahu dan alat tangkap ini akan bermanfaat dalam jangka waktu panjang bagi nelayan,"katadia.

Dia mengatakan salah satu syarat wakaf adalah ada pengelola harta (nadzir) tersebut. Jika tidak ada nadzir maka harta wakaf akan sulit dikelola dengan baik.

Nadzir, kata dia, memiliki amanah mengelola harta wakaf untuk seluas-luasnya kepentingan umat dan masyarakat. Perahu dan jala yang merupakan alat produksi bagi nelayan tersebut harus bisa memberi manfaat secara ekonomi secara berkelanjutan.

Ichsan mengingatkan secara syariah harta wakaf tidak boleh dijual. Harta wakaf harus dikelola sedemikian rupa agar tetap memberi hasil dan alat produksi bisa seawet mungkin.

"Alat ini ada masa umurnya, nadzir agar mencari cara bagaimana bisa selama mungkin dirawat, direnovasi. Kita harus berusaha perahu ini bisa dipakai selama mungkin, semakin lama semakin baik. Kami juga akan terus menjalin komunikasi untuk memantau perkembangan wakaf di sini," kata dia.

Ketua Nadzir Wakaf Produktif Suwanto mengatakan pihaknya bersama nelayan di desanya akan berupaya mengoptimalkan wakaf perahu dan alat tangkap ikan. Menurut dia, wakaf dari Jasindo itu akan dapat menjadi aset produktif bagi nelayan.

"Dua unit kapal tinting ini bisa menjadi multifungsi untuk mengangkut orang, dipakai nelayan dan perahu sewa pemancingan. Sangat bermanfaat," kata dia.

Group Head Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo Ario Radityo berharap harta wakaf untuk nelayan tersebut dapat bermanfaat bagi 10 kepala keluarga pengguna perahu dan alat tangkap ikan.

Manfaat, kata dia, akan didapat dengan para nelayan itu menggunakan perahu dan alat tangkap secara bergantian dengan sistem bagi hasil antara nelayan dan pengelola.

"Semoga ini berkelanjutan dan cakupannya dapat semakin luas. Jika laba kami naik maka supaya bisa makin banyak disisihkan untuk bina lingkungan seperti ini," katanya.

Pembuatan wakaf produktif berupa dua unit perahu ketinting dan 10 unit jaring untuk para nelayan di Kelurahan Kutawaru, Cilacap, Jawa Tengah sudah rampung keseluruhannya. Para penerima manfaat pun sudah mulai menggunakannya untuk mencari nafkah.

 Pada tanggal 25 September 2019, Tim Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) menyambangi Kelurahan Kutawaru untuk meninjau pemanfaatan bantuan ini. Dari Dermaga Penca di Cilacap, Tim BWA menyeberang laut menuju Kutawaru menggunakan perahu ketinting dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Dari Dermaga Kutawaru, perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan ojek motor ke tempat yang dituju, yaitu SMP Al Manar Kutawaru. Di sana berkumpul nelayan penerima manfaat beserta Bapak Suwanto selaku nadzir wakaf. Terdapat 25 nelayan yang merasakan manfaat wakaf ketinting dan jaring ini. Mereka tergabung dalam Rukun Nelayan binaan Bapak Suwanto.

Tim BWA melihat wakaf sarana perahu dan 10 alat tangkap berfungsi dengan baik. Para nelayan telah menggunakannya secara rutin. Jaring dipakai untuk menangkap ikan dan kepiting rajungan. Kedua perahu dimanfaatkan untuk mengangkut hasil panen tangkapan ikan dan kepiting rajungan ke tempat penjualan ikan. Hasil tangkapan terbesar dan menjadi komoditas andalan nelayan Kutawaru adalah kepiting rajungan yang biasa dipanen tangkapannya pada pagi dan sore hari.  Salah satu perahu dibuat dengan ukuran lebih besar. Perahu ini selain untuk mengangkut hasil tangkapan juga difungsikan sebagai angkutan wisata hutan mangrove yang berada di pesisir laguna Segara Anakan.

(Rajungan Hasil Tangkapan Nelayan)

(Rajungan Hasil Tangkapan Nelayan)

Keesokan harinya (26 September 2019), Tim BWA mengadakan pertemuan dengan para nelayan untuk menyosialisasikan kegiatan wakaf produktif ketinting dan jaring ini. Kemudian diadakan pula proses identifikasi masalah yang dialami masyarakat setempat, dengan melibatkan partisipasi seluruh peserta. Dari pertemuan ini diketahui terdapat tiga persoalan yang dirasakan nelayan Kutawaru, yaitu: persoalan harga jual hasil tangkapan yang rendah, minimnya jumlah unit perahu ketinting dan jaring sehingga perlu ditambah, dan perlunya diadakan pusat penjualan peralatan nelayan yang lengkap di Kutawaru, agar nelayan tidak harus menyeberang ke Kota Cilacap untuk memberi peralatan melaut.

(Kegiatan sosialisasi kegiatan dan identifikasi kebutuhan)

Kehadiran wakaf ketinting dan jaring ini memberi harapan dapat memperbaiki keadaan ekonomi masyarakat nelayan. Karenanya, Tim BWA mengingatkan agar semua peralatan yang diberikan dipelihara dengan baik, dan hendaknya para nelayan meneguhkan kembali komitmen yang sudah mereka dibuat dengan nadzir wakaf di awal pelaksanaan program. Bahwa terdapat hak dan tanggung jawab harus dipenuhi dalam memanfaatkan bantuan ketinting dan jaring. Komitmen ini diperlukan untuk kemaslahatan bersama, agar manfaat bantuan ini dapat dirasakan untuk jangka waktu yang panjang.