Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki kekayaan alam laut yang melimpah. Apalagi wilayah timur Indonesia, tepatnya di wilayah laut flores. Kondisi kekayaan alam ini masih belum diambil secara optimal untuk mensejahterakan warga masyarakat. Inilah yang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia.  

Salah satu kendala yang dihadapi warga flores timur dalam mengambil ikan adalah sarana transportasi berupa kapal nelayan. Hanya orang-orang yang bermodal besar yang bisa mengambil kekayaan ikan tersebut.

Ketinting

(Tim BWA bersama Pak Ibrahim dan beberapa nelayan NTT di tempat pembuatan kapal ketinting)

Kapal ketinting merupakan kapal tradisional yang dimiliki oleh nelayan untuk menangkap ikan. Biasanya kapal ini terbuat dari kayu dan hanya mampu mengangkut ikan sebanyak 100 Kg. Sehingga nelayan tidak bisa mengambil lebih dari itu karena kapal akan karam jika kelebihan beban. Padahal ikan banyaknya tersedia banyak.

Kapal ketinting ini pun dari segi operasional juga tinggi, terutama konsumsi BBM untuk mesin kapal. Sehingga hasil penjualan tangkapan ikan hanya cukup untuk makan sehari. Kapal ketinting inipun tidak semua nelayan punya, biasaya mereka yang ikut melaut bagi hasil dengan pemilik kapal atau mereka bekerja sebagai ABK kapal penangkap ikan.

Untuk membantu nelayan agar mandiri, BWA merancang proyek Wakaf Kapal ketinting yang terbuat dari fiberglass yang mampu menampung ikan sampai 500 Kg. Kapal ini berukuran panjang 5 meter dengan lebar 90-100 cm.

Kapal fiber ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan kapal ketinting kayu yakni dari segi konsumsi BBM yang lebih hemat karena kapal ringan sehingga mudah bergerak dilaut juga kapasitasnya yang lebih besar jika dibandingkan dengan kapal ketinting kayu. Dan yang paling penting model kapal ketinting fiber ini sangat cocok untuk perairan laut di pulau adonara flores timur NTT.

Untuk tahap awal, akan dibuat 10 kapal ketinting yang diperuntukan para nelayan wilayah Adonara flores timur NTT. Selain itu, pada proyek wakaf produktif kali ini juga sudah termasuk pembuatan 1 unit rumpon, dan 500 buah bubu yang akan dimanfaatkan secara optimal dan menebarkan manfaat lebih besar lagi bagi penerima manfaatnya.

Kami mengajak Anda berpartisipasi untuk berwakaf untuk pengadaan kapal ketinting fiberglass ini yang akan mengalirkan pahala selama kapal ini beroperasi memberi manfaat kepada para nelayan kecil di Flores Timur NTT.

Donasi Wakaf yang dibutuhkan:

Untuk proyek wakaf produktif ini  dibutuhkan dana sebesar Rp. 958.076.923,- (Dibulatkan Rp. 959.000.000,-)

Partner Lapang :

Ust. Arifudin Anwar (Pengasuh Ponpes Ikhwatun Mu’minin, Adonara, Flores, NTT)

 

Program Wakaf Produktif Pemberdayaan sejak awal berkomitmen mengusung project-project yang menyentuh pada kebutuhan pengembangan ekonomi di daerah terpencil dan merupakan hasil asesmen mendalam persoalan ekonomi masyarakat tertarget. Salah satu projectnya adalah 10 Perahu Ketinting untuk Warga Desa Sagu, Adonara. Project ini bertujuan mendukung pengembangan ekonomi masyarakat setempat yang memang mayoritas pekerjaan mereka adalah nelayan perahu ketinting.

Setelah bulan Agustus 2018 BWA dan PT. Jasindo meresmikan 4 perahu ketinting untuk segera dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Sagu, Adonara. Kini 6 perahu ketinting lainnya juga sudah dapat dimanfaatkan. Pada peresmian project yang dilaksanakan Kamis, 22 Nopember 2018, BWA mewakili para wakif menyerahkan seluruh kapal wakaf tersebut. Adapun penerima barang wakaf yang diserahkan kepada nelayan Desa Sagu, yang diwakili oleh nazir wakaf Ustadz Arifudin Anwar, Pimpinan Ponpes Ikhwatul Muslimin berupa : 10 Unit Perahu Ketinting, yakni 4 unit beserta perlengkapan tangkap ikannya merupakan bantuan dari PT. Jasindo, 5 unit lainnya merupakan bantuan dari PT. Bank CIMB Niaga Syariah, dan 1 Unit lagi merupakan bantuan dari PT. Bank Permata Syariah.

4 Perahu ketinting yang sebelumnya sudah lebih dulu diserahterimakan, bahkan ada yang sudah sampai berlayar ke Maumere untuk mencari ikan. Menurut Pak Berani, salah satu penerima manfaat yang berlayar mencari ikan sampai ke Maumere tersebut, beliau hanya membutuhkan waktu 7 jam saja sampai ke Maumere dengan menggunakan perahu ketinting wakaf tersebut. Jauh lebih cepat daripada perahu ketinting biasa yang bisa mencapai 9-12 jam untuk sampai ke Maumere.

Rencananya, 10 ketinting tersebut akan dikelola oleh nazir wakaf Ust. Arifudin Anwar untuk kemaslahatan masyarakat Adonara dan mendukung pengembangan dan pembangunan pesantren Ikhwatul Mukminin, Adonara. Betapa terus mengalir pahala kepada para wakif perahu Ketinting ini. Semoga Alloh subhaanahu wa ta’ala menerima seluruh amal wakaf para wakif sekalian.