Ya, ”gelap” yang saya maksud adalah belum tersentuh oleh aliran listrik. Beberapa rumah menggunakan penerangan lampu minyak, itupun bagi yang mempunyai uang lebih dan hanya dinikmati segelintir orang, sisanya tidak menggunakan penerangan alias berselimutkan pekatnya kegelapan malam. Tim BWA telah berkunjung ke Patlean guna melihat secara langsung kehidupan mereka. Dari pengamatan Tim BWA, mencoba merusmuskan solusi tepat dan cepat bagi penerangan di sini. Solusi penerangan yang di maksud adalah dengan menggunakan teknologi Solar Cell. Desa Patlean, Halmahera Timur ini tampaknya masih bergulat untuk menerangi diri. Kami pun seperti tersadar, ternyata bukan hanya desa yang berada di garis perbatasan Indonesia saja yang masih bergelap ria seperti yang ramai diberitakan misal desa di Kalimantan Barat perbatasan dengan Serawak-Malaysia. Di daerah ini pun, masih belum teraliri listrik PLN. Ayo bantu saudara kita di Halmahera ini dengan Wakaf Sarana Penerangan, agar kehidupan mereka lebih baik lagi. Silahkan Wakaf dan transfer dana wakaf Anda ke rekening an. Badan Wakaf Al Qur'an BNI Syariah 155.000.1511 BCA 6270.1666.26 Mandiri 122.000.3.000.000 Danamon Syariah 103.730.008 CIMB Niaga Syariah 860.000.111.500 BRI Syariah 1038.57.4082

Suku Togutil hidup dan tinggal di Pedalaman hutan Kabupaten Halmahera, Maluku Utara. Togutil sendiri merupakan sebutan bagi sekelompok manusia yang mendiami hutan di kawasan Pulau Halmahera. Togutil memiliki arti “suku yang hidup di hutan” atau dalam bahasa Halmahera pongana mo nyawa.

Mereka hidup di hutan belantara dan nampak begitu tradisional, belum tersentuh peradaban modern dan teknologi. Dalam hal berbusana rata-rata setengah dari tubuh mereka, baik kaum lelaki maupun perempuan hanya ditutupi daun.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mencarinya di hutan-hutan. Mereka terbiasa menyantap makanan secara langsung atau dimasak secara sederhana dengan cara dibakar dengan bambu. Mereka masih sangat bergantung pada hasil alam. Makan dari buah-buahan, umbi-umbian, pucuk-pucuk daun muda dan dari hasil buruan binatang hutan dan ikan sungai.

Dalam kesederhanaan mereka, masyarakat suku Togutil mulai mengenal Islam, beberapa diantara mereka menyambut baik, dan memiliki keinginan untuk belajar Islam lebih dalam. Namun seringkali hambatan geografis, kondisi mereka yang ada di pedalaman, mengakibatkan kurang maksimalnya dakwah terhadap mereka.

Tim BWA bersama Warga Muslim Suku Togutil

(Tim BWA bersama Warga Muslim Suku Togutil)

Salah satu kebutuhan bagi mereka adalah tersedianya jaringan listrik di daerah mereka. Sehingga apabila menjelang malam, mereka bisa beraktivitas dan salah satu manfaat lain adalah memudahkan pula bagi da’i untuk bisa berdakwah disana, menyebarkan cahaya Islam di kegelepan masyarakat terpencil di pelosok Halmahera ini.

Melalui program TCIT, Tebar Cahaya Indonesia Terang, BWA mengajak muslimin untuk bersama membantu, berwakaf untuk mewujudkan malam yang bercahaya bagi saudara kita Suku Togutil di Halmahera. Semoga wakaf kita menjadi pahala yang terus mengalir, insyaAllah, aamiin.

#TebarCahayaIndonesiaTerang