Bagi kita yang hidup dengan penerangan cukup sejak kecil, pasti tak terbayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa lampu di malam hari. Inilah yang dialami saudara kita warga Dusun Kampung Dalam, Kelurahan Pangkalan Kapas, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Mereka telah hidup tanpa listrik dan penerangan puluhan tahun lamanya. Desa dengan jumlah penduduk 260 jiwa (data BPS 2016) ini 100% beragama Islam. Salah satu pusat kegiatan belajar dan pembinaan ke-Islaman mereka ada di Masjid Istiqomah di kampung tersebut. Masjid Istiqomah ini meski sederhana, namun telah menjadi aset penting bagi warga sekitar dalam mempertahankan aqidah mereka. Tanpa penerangan yang memadai menjadikan kondisi ini sangat berat bagi mereka. Apalagi bila melihat Masjid Istiqomah yang mereka gunakan untuk Shalat Jum’at, mengadakan pengajian ke-Islaman, dan mengajarkan anak-anak mereka belajar membaca Al-Qur’an, kondisinya sangat memprihatinkan. Selain tak ada listrik, atap masjid ini juga sudah rusak, bangunannya sudah lapuk, karpetnya lusuh, tempat wudhunya kurang layak, serta Al-Qur’an dan Buku Iqro’ sudah banyak yang rusak. Namun keadaan ini tidak menyurutkan masyarakat untuk mempertahankan keimanan mereka dan mengamalkan ibadah mereka kepada Allah subhaanahu wa ta’ala. Ayo kita bantu 200 Unit Solar Cell untuk memberikan penerangan bagi saudara-saudara kita di Dusun Kampung Dalam dan sekitarnya, serta memberikan cahaya harapan untuk Masjid Istiqomah dan masjid serta mushola lainnya di Desa Pangkalan Kapas, Riau. Transfer Wakaf Anda ke rekening an. Badan Wakaf Al Qur'an di BNI Syariah 155.000.1511 Bank Muamalat 121.003.8884 Bank Mandiri 123.000.3.000.000 BCA 627.01.666.26 Terima kasih bila Anda membantu menshare pesan ini pada orang baik yang Anda kenal []

 

Sudah lebih dari 74 tahun Indonesia merdeka, namun Dusun Kampung Dalam, yang terletak di Kelurahan Pangkalan Kapas, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau hingga saat ini masih belum juga mendapatkan aliran listrik permanen. Sehari-hari masyarakat hidup dengan mengandalkan penerangan seadanya. Di malam hari aktivitas di luar rumah nyaris terhenti, karena suasana gelap gulita. Sementara anak-anak terpaksa belajar dengan ditemani lampu-lampu temaram.

Kondisi ini terkait dengan lokasi Dusun Kampung Dalam yang terpencil. Pada tanggal 25 Oktober 2019, tim BWA mengunjungi daerah ini untuk melihat kondisi masyarakat di sana. Dari Kota Pekanbaru menuju tempat ini membutuhkan waktu sekitar 10 jam melalui perjalanan darat.  Tim BWA terpaksa menempuh jalan memutar melewati daerah Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat, lantaran rute yang langsung dari Kota Pekanbaru menuju Dusun Kampung Dalam sangat sulit dilalui. Sekalipun melewati jalan memutar, medan yang ditempuh masih cukup berat. Kondisi jalan rusak, berbatu licin, dan berlumpur. Untuk sampai ke lokasi, paling tidak harus menyeberangi sungai.

Pemerintah Derah setempat sudah pernah memberikan bantuan penerangan untuk Dusun Kampung Dalam berupa fasilitas genset bertenaga solar. Namun tidak bertahan lama. Masyarakat dikenakan iuran solar yang tidak murah. Mengingat mayoritas penduduk Kampung Dalam bekerja sebagai petani karet, ketika harga karet turun drastis, kondisi ekonomi mereka sangat sulit. Akibatnya pada waktu itu banyak warga tidak mampu membayar iuran solar. Keadaan memaksa mereka memilih untuk menghentikan sambungan listrik dan kembali menjalani hari-hari dengan penerangan tradisional.

Tidak bisa dipungkiri, listrik sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat di belahan bumi manapun. Selain berfungsi sebagai penerangan, listrik juga diperlukan untuk kebutuhan rumah tangga maupun  tempat-tempat ibadah. Tanpa listrik, masjid tidak bisa menggemakan azan ke rumah-rumah warga untuk mengingatkan masyarakat bahwa waktu sholat telah tiba. Kegiatan belajar mengaji anak-anak kampung juga terhalang karena tidak adanya cahaya lampu yang memadai. Inilah yang dialami Masjid Al Istiqomah di Dusun Kampung Dalam. Menurut Ustadz Suardi, Pengurus Masjid Istiqomah, sejak berdiri tahun 1980 hingga sekarang masjid ini belum pernah diterangi cahaya listrik.

“Kami sangat mengharapkan bantuan atau uluran tangan (untuk penerangan), supaya kalau malam tidak gelap lagi dan anak-anak tidak susah lagi mengaji,” tutur Ustad Suardi.

BWA melalui program Tebar Cahaya Indonesia Terang (TCIT), akan membantu masyarakat Dusun Kampung Dalam untuk mendapatkan fasilitas listrik yang mereka butuhkan. Rencananya, akan dialokasikan sebanyak 200 unit solar cell. BWA mengajak para Wakif yang budiman untuk berpartisipasi mewujudkan program TCIT ini, agar masyarakat Dusun Kampung Dalam terbebas dari kegelapan yang membelenggu mereka selama ini.

Semoga Allah Subhanahuwata’ala memudahkan upaya dan niat baik ini. Dan semoga pula apa yang diwakafkan oleh para Wakif, kelak menjadi ladang amal ibadah yang tidak terputus pahala dan berkahnya hingga akhir zaman.