Desa yang berada di ujung Bekasi lokasinya berbatasan langsung dengan laut Jawa dan juga dibelah oleh Sungai Citarum. Lokasi yang terletak di kawasan pesisir itu membuat desa di Muara Gembong ini jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi, dan seolah tak terjamah. Itu terlihat dari sulitnya akses transportasi dan minimnya infrastruktur. Dengan wakaf Sarana Air Bersih, problem air bersih yang selalu dirasakan masyarakat disana akan terselesaikan. Ayo bantu saudara kita dengan Wakaf Anda...

Di sudut timur Ibukota, daerah Bekasi tepatnya di Muara Gembong, Desa Pantai Bahagia. Masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kualitas air disana buruk dan dengan kondisi kualitas mata air itu, warga hanya bisa memanfaatkannya untuk kebutuhan mencuci dan mandi, sementara untuk kebutuhan minum atau memasak warga harus membeli air ke penjual-penjual, yang tentunya memberatkan dan menambah pengeluaran sehari-hari mereka.

Pada kamis, 14 Februari 2019 Tim BWA bersama Tim Geophysic dari Bandung melaksanakan Tes Geolistrik di Desa Pantai Bahagia Muara Gembong, Bekasi. Tujuan tes ini untuk mendeteksi apakah ada lapisan akuifer yang dapat dimanfaatkan untuk pengeboran air. Didampingi Komunitas Muaragembongkita dan Pak Dadang sebagai Tokoh Masyarakat setempat Geolistrik dilakukan dengan mengambil sampel dua titik pengukuran di Kampung Gobah.

Pengukuran geolistrik dilakukan di dekat rumah Pak Dadang karena beliau mau mewakafkan sebagian tanah di lokasi beliau untuk nanti dipakai untuk pengeboran dan penempatan alat desalinasi. Setelah dilakukan tes selama kurang lebih 3 jam didapatkan titik yang terdapat Akuifer. Walaupun akuifernya yang ditemukan adalah Akuifer Air Payau. Riwayat pengeboran di Desa Pantai Bahagia memang belum ada satupun warga yang mendapatkan air tawar dari hasil pengeboran. Sehingga pertimbangan untuk desalinasi dari air payau hasil pengeboran adalah alternatif terbaik.

Hasil Geolistrik

(Hasil Geolistrik)

Akuifer berada di kedalaman 40-85 m, sehingga bisa dilakukan pengeboran di sampai kedalaman 85 m. Dengan hasil geolistrik ini maka di lokasi Pak Dadang, bisa dilakukan pengeboran untuk mendapatkan air baku untuk dilakukan proses desalinasi.

Dengan kondisi yang dialami warga Muara Gembong, Badan Wakaf Al Qur’an melalui program Water Action for People (WafP), bergerak bersama membantu agar saudara kita di Muara Gembong, tepatnya di Desa Pantai Bahagia, kembali berbahagia dengan ketercukupan air bersih untuk bisa mereka manfaatkan sehari-hari.

Mari para wakif, kami mengajak anda untuk membantu saudara-saudara kita di Muara Gembong untuk mendapatkan air tawar dengan mudah. Semoga Allah memudahkan urusan kita di dunia dan di akhirat. Aamiin.

 

#WaterActionforPeople #MuaraGembong

Rabu, tanggal 6 November 2019 menjadi momen yang mengembirakan bagi warga Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Bekasi, Jawa  Barat. Pada hari itu Tim Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) menandatangi akad kontrak pembangunan rumah desalinasi dengan Haji Warman, pemilik Toko Bangunan Hulubis yang berlokasi di Kecamatan Muara Gembong, Bekasi. 

(Pembangunan Rumah Desalinasi)

(Pembangunan Rumah Desalinasi)

Setelah akad dan penyelesaian administrasi, Toko Bangunan Hulubis mengirimkan satu perahu pasir, 400 batang batang merah, dan material lain ke Kampung Bogah, Desa Pantai Bahagia untuk memulai pekerjaan pembuatan pondasi rumah desalinasi dengan konstruksi cakar ayam. Pembangunan pondasi ini merupakan langkah awal dimulainya proyek pembangunan sarana air bersih atau Water Action for People (WAFP) di Desa Pantai Bahagia, Muara Gembong yang bertujuan membantu warga agar mudah mendapatkan air yang layak minum.

Rumah desalinasi ini merupakan bangunan yang didesain sebagai tempat yang didalamnya akan diinstall serangkaian alat untuk mengubah air payau menjadi tawar yang langsung dapat dikonsumsi. Dengan menggunakan Teknik Reverse Osmosis (RO)  kadar garam di dalam air payau dihilangkan sehingga menjadi tawar dan dilayak dikonsumsi.

Desa Pantai Bahagia tidak memiliki sumber air bersih yang layak diminum. Daerah yang berbatasan dengan Laut Jawa ini dikelilingi oleh air payau. Sumur-sumur warga tidak ada yang berair tawar. Bahkan sumur bor yang digali sampai kedalaman 80-120 meter masih saja berasa payau. Alhasil, air sumur yang miliki warga hanya dapat digunakan untuk keperluan beribadah, mandi, dan mencuci. Untuk kebutuhan memasak dan minum, warga terpaksa membeli dari penjual air yang berkeliling dari desa ke desa melewati Sungai Citarum. Ketika musim kemarau penjual air sering terlambat sampai ke Desa Pantai Bahagia. Warga terpaksa menunggu lama untuk mendapatkan air tawar.

BWA tergerak untuk membantu masyarakat Muara Gembong, khususnya Desa Pantai Bahagia, agar tidak lagi kesulitan mendapatkan air layak minum. BWA mengajak para wakif untuk bersama-sama membantu proyek pembangunan sarana air bersih di Desa Pantai Bahagia ini, agar semua tahapan pembangunan terealisasi sebagaimana yang direncanakan dan warga mendapatkan apa yang selama ini mereka impikan. Semoga Allah Subhanahuwata’aala melapangkan rezeki para wakif yang turut bersama BWA mewujudkan niat baik ini.